Guru Biologi SMA Sleman Perkuat Kompetensi TPACK-AI melalui Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence

Pemanfaatan artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan aktivitas belajar dan kerja guru. Agar penggunaannya benar-benar mendukung kualitas pembelajaran, guru tidak cukup hanya mengenal aplikasi AI, tetapi juga perlu mampu menghubungkannya dengan strategi pedagogis dan ketepatan konten. Kebutuhan inilah yang menjadi dasar program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Penguatan TPACK Guru Biologi SMA di Kabupaten Sleman”.

Program dilaksanakan bersama MGMP Biologi Kabupaten Sleman dengan melibatkan 25 guru dari 23 SMA. Kegiatan diarahkan untuk menguatkan Technological, Pedagogical, Content Knowledge (TPACK) guru, meningkatkan kemampuan merancang pembelajaran Biologi yang mindful, meaningful, dan joyful, serta memperkuat penyusunan asesmen autentik dan umpan balik formatif berbantuan AI. AI sebagai alat bantu keputusan profesional guru Dalam kegiatan ini, AI ditempatkan sebagai bagian dari technological knowledge yang perlu dipadukan dengan pedagogical knowledge dan content knowledge. Keluaran AI tidak digunakan secara langsung tanpa pemeriksaan. Guru tetap menjadi pengambil keputusan utama yang menentukan tujuan belajar, memilih strategi, memeriksa akurasi konsep Biologi, menyesuaikan materi dengan kebutuhan peserta didik, dan menetapkan batas penggunaan AI di kelas. Pelatihan juga memberi perhatian pada verifikasi keluaran AI, privasi data, hak cipta, sitasi, transparansi, dan integritas akademik. Dengan demikian, AI digunakan untuk memperkuat keputusan profesional guru, bukan menggantikannya.

Gambar 1. Kegiatan penguatan TPACK-AI dalam kegiatan pengabdian.

Pelatihan berbasis praktik, bukan sekadar pengenalan aplikasi. Kegiatan menggunakan Model Latihan Partisipatif. Peserta terlibat sejak identifikasi kebutuhan, pelatihan, praktik penyusunan perangkat, implementasi, evaluasi, hingga refleksi. Materi utama mencakup TPACK-AI workflow, keterampilan menyusun prompt, desain pembelajaran berbasis proyek atau masalah, penyusunan modul ajar dan LKPD, asesmen autentik, soal HOTS, umpan balik formatif, serta etika dan keamanan penggunaan AI.

Pendampingan dirancang dengan pola In-On-In. Pada tahap In pertama, guru mengikuti pelatihan dan lokakarya. Tahap On memberi ruang bagi peserta untuk menerapkan perangkat di sekolah. Tahap In lanjutan digunakan untuk membahas pengalaman implementasi, melakukan peer review, memperbaiki perangkat, dan menyusun tindak lanjut melalui MGMP.

Perangkat evaluasi disiapkan untuk melihat perubahan kompetensiPada tahap pelaksanaan yang dilaporkan, tim telah menyusun perangkat evaluasi berupa angket penguatan TPACK-AI 30 butir, instrumen observasi pelatihan 30 butir, instrumen observasi implementasi 20 butir, pedoman wawancara 26 pertanyaan, serta kriteria interpretasi skor. Perangkat ini membantu memotret pemahaman AI, prompting, desain pembelajaran, asesmen, verifikasi konten, etika, implementasi, dan keberlanjutan melalui komunitas MGMP.

Kepuasan peserta berada pada rentang 81-95 persen. Angket kepuasan peserta menunjukkan skor pada sepuluh indikator berada pada rentang 81 persen hingga 95 persen. Nilai tertinggi terdapat pada komunikasi dan koordinasi tim pelaksana dengan penanggung jawab lokasi sebesar 95 persen, diikuti kesesuaian keahlian pengabdi dengan kegiatan sebesar 93 persen. Kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan peserta tercatat 89 persen, sedangkan hasil pengabdian yang dapat dimanfaatkan masyarakat memperoleh 90 persen.

Melalui rangkaian ini, program diharapkan memperkuat kapasitas profesional guru Biologi sekaligus mendukung pendidikan berkualitas dan kemitraan berkelanjutan antara perguruan tinggi, MGMP, dan sekolah.

Catatan sumber: PPM DLK “Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Penguatan TPACK Guru Biologi SMA di Kabupaten Sleman”.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *